<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Sekolah Minggu &#187; kumpulan kesaksian kristen</title>
	<atom:link href="http://sekolahminggu.com/tag/kumpulan-kesaksian-kristen/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sekolahminggu.com</link>
	<description>Anugerah Datang Dari Allah</description>
	<lastBuildDate>Wed, 02 Nov 2016 09:04:21 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=3.9.40</generator>
	<item>
		<title>Ketika Lampu Mati</title>
		<link>http://sekolahminggu.com/ketika-lampu-mati/</link>
		<comments>http://sekolahminggu.com/ketika-lampu-mati/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Jan 2014 06:21:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[Sekolah Minggu]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Sekolah Minggu]]></category>
		<category><![CDATA[Sekolah Minggu]]></category>
		<category><![CDATA[kumpulan artikel kristen]]></category>
		<category><![CDATA[kumpulan cerita kristen]]></category>
		<category><![CDATA[kumpulan kesaksian kristen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sekolahminggu.com/?p=1289</guid>
		<description><![CDATA[Ketika Lampu Mati Cerita      : Kak Widya Illustrasi : Kak Heru Papa, Mama, Nadia, dan Dodi baru saja selesai makan malam. Mama baru saja menaruh piring gelas yang kotor di bak cuci piring ketika listrik tiba-tiba padam. &#8220;Wah, aku baru<span class="ellipsis">&#8230;</span><div class="read-more"><a href="http://sekolahminggu.com/ketika-lampu-mati/">Read more &#8250;</a></div><!-- end of .read-more -->]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h1><a title="ketika lampu mati" href="http://sekolahminggu.com/ketika-lampu-mati/" target="_blank"><span style="color: #ffcc00;">Ketika Lampu Mati</span></a></h1>
<p>Cerita      : Kak Widya</p>
<p>Illustrasi : Kak Heru</p>
<p>Papa, Mama, Nadia, dan Dodi baru saja selesai makan malam. Mama baru saja menaruh piring gelas yang kotor di bak cuci piring ketika listrik tiba-tiba padam.</p>
<p>&#8220;Wah, aku baru saja mau membaca buku cerita,&#8221; keluh Dodi.</p>
<p>&#8220;Dan aku mau mengerjakan prakarya tusuk silang,&#8221; kata Nadia. Aduuuh, kok mati lampu sih? Sampai kapan nyalanya?&#8221;</p>
<p><strong><span style="color: #ff9900;">&#8220;Tenang saja. Papa akan menyalakan lampu darurat di ruang tamu. Kita bisa berkumpul di sana. Papa punya cerita yang bagus,&#8221; kata Papa. Suara Papa yang bersemangat menghilangkan kekesalan anak-anak.</span></strong></p>
<p>Keluarga itu pun berkumpul di ruang tamu. Lampu darurat lumayan memberikan penerangan.</p>
<p>&#8220;Ayo, Pa, cerita sekarang,&#8221; pinta Dodi. &#8220;Katanya ada cerita bagus.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, kemarin Papa baca di Internet. Ada seorang pemuda yang baru percaya Yesus. Ia sangat rajin baca Alkitab. Tapi sebulan kemudian ia menjadi korban ledakan bom. Mata pemuda itu buta dan kedua tangannya hancur,&#8221; Papa memulai ceritanya.</p>
<p>&#8220;Aduh, kasihan sekali. Apakah orangnya benar-benar ada?&#8221; tanya Nadia.</p>
<p>&#8220;Iya, namanya tak disebutkan. Ia tinggal di kota Kansas, Amerika. Nah, pemuda ini sangat rindu membaca Alkitab. Setelah sembuh dari musibah tersebut, ia mendengar tentang orang yang buta yang membaca Alkitab dalam huruf Braille. Orang itu juga tidak punya tangan dan membaca dengan bibirnya. Jadi ia memesan Alkitab dalam huruf Braille.&#8221;</p>
<p><strong><span style="color: #008080;">&#8220;Namun ketika pesanannya datang, bibirnya tidak bisa merasakan hhuruf-huruf Braille itu, karena saraf di bibirnya sudah mati. Pemuda itu sangat kecewa. Tapi setiap hari ia mencoba dan mencoba terus. Suatu ketika secara tak sengaja, lidahnya menyentuh huruf-huruf Braille itu dan ia bisa merasakannya.&#8221;</span></strong></p>
<p>&#8220;Pemuda itu sangat gembira dan bersyukur kepada Tuhan. Jadi ia bisa membaca Alkitab dengan lidahnya dan waktu kisah tersebut dimasukkan ke Internet, ia sudah membaca seluruh Alkitab sebanyak empat kali,&#8221; demikian cerita Papa.</p>
<p>&#8220;Ck, ck, ck, hebat sekali!&#8221; kata Nadia. &#8220;Kalau Alkitab begitu penting baginya, aku juga mestinya baca Alkitab tiap hari.&#8221;</p>
<p>&#8220;Iya, Firman Tuhan itu memberi kekuatan dalam kita menjalani hari-hari kita,&#8221; kata Mama. &#8220;Mulailah baca Alkitab tiap hari.&#8221;</p>
<p>&#8220;Sekarang giliran Mama bercerita,&#8221; Papa mengingatkan.</p>
<p>&#8220;Mama tidak punya cerita. Tapi ada lagu yang Mama sukai. Lagu ini selalu mengingatkan Mama akan kebaikan Tuhan yang selalu mencukupi kebutuhan kita,&#8221; kata Mama. &#8220;Mama nyanyi saja, ya?&#8221; Yang lain mengangguk setuju.</p>
<p>Mama mulai menyanyi: <i>&#8220;Mulia setiamu, ya Allah Bapa. Tak selintas pun sinar-Mu lenyap.</i>     <i>&#8230;Yang kuperlukan telah tersedia. Mulia setia-Mu, ya Tuhanku.&#8221;</i></p>
<p><strong><span style="color: #00ff00;">Ketika Mama menyanyikan bait kedua, yang lain ikut menyanyi. Suasana menjadi hangat. Walaupun mati lampu, sukacita mereka tidak terbendung. Setelah itu Dodi mengusulkan lagu lain, dan kemudian Nadia mengusulkan lagu rohani lainnya.</span></strong></p>
<p>&#8220;Wah, walaupun mati lampu, kita mendapat berkat Tuhan,&#8221; kata Papa dengan gembira. Kalau ada listrik, kita sibuk dengan kegiatan masing-masing. Sekali-sekali kita perlu mengadakan acara seperti ini lagi.&#8221;</p>
<p>&#8220;Sekarang giliran Nadia,&#8221; Mama mengingatkan.</p>
<p>&#8220;Aku juga tidak punya cerita. Aku akan beritahu salah satu ayat Alkitab yang kusuka: &#8216;Tak berkesudahan kasih setia Tuhan, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetian-Mu. Ini dari Ratapan 3:22-23,&#8221; kata Nadia.</p>
<p>&#8220;Aku belajar ini dari Nenek. Jadi jika kita bangun pagi, kita ingat bahwa Tuhan itu baik dan Tuhan akan sediakan segala yang baik untuk kita hari itu. Setelah itu baru aku doa pagi,&#8221; Nadia melanjutkan.</p>
<p>&#8220;Pa, temanku Elis masuk rumah sakit karena demam berdarah. Bisakah kita mendoakannya sekarang?&#8221; tanya Nadia lagi.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>&#8220;Wah, itu bagus. Kita perlu mendoakan orang-orang lain setiap hari. Jangan hanya berdoa untuk minta keperluan kita sendiri saja. Mari kita doakan,&#8221;kata Papa. Maka semua orang melipat tangan, menutup mata, dan mendoakan Elis.</strong></span></p>
<p>Setelah selesai berdoa, semua memandang Dodi.</p>
<p>&#8220;Sekarang giliranmu, Dod,&#8221; kata Nadia. Papa menganggukkan kepala memberikan semangat.</p>
<p>&#8220;Jadinya seperti kebaktian. Ada Firman Tuhan, ada pujian, ada doa,&#8221; kata Dodi. &#8220;Semua sudah lengkap, aku juga tak punya cerita.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kalau begitu, apakah kita mau nyanyi lagi?&#8221; tanya Mama.</p>
<p>&#8220;Biar Dodi berpikir dulu,&#8221; kata Papa. Dodi kelihatan ragu-ragu, tetapi kemudian ia berkata, &#8220;Sebenarnya ada yang kuinginkan. Boleh aku bilang terus terang?&#8221; tanya Dodi.</p>
<p>Papa memandang Mama. Mereka tersenyum.</p>
<p>&#8220;Kamu mau minta dibelikan HP, ya?&#8221; goda Nadia. Dodi menggeleng.</p>
<p>&#8220;Ayo, siapa yang bisa tebak keinginanku?&#8221; tiba-tiba Dodi jadi semangat. Suasana jadi meriah.</p>
<p>&#8220;Sepatu baru!&#8221; kata Mama. Dodi menggeleng.</p>
<p><strong><span style="color: #ff00ff;">&#8220;Pergi tamasya ke Taman Stroberi!&#8221; terka Nadia lagi. Dan belum seorang pun yang berhasil menerka keinginan Dodi. Akhirnya semua menyerah kalah dan minta Dodi memberitahukan jawabannya.</span></strong></p>
<p>&#8220;Aku mau supaya kita meminjamkan lampu darurat untuk Bu Mimi, tetangga kita. Dia punya bayi dan itu sangat berguna karena cahayanya lebih terang. Kita bisa pakai lilin. Apakah boleh?&#8221; kata Dodi.</p>
<p>Mama memeluk Dodi. Papa tersenyum dan mengangguk-angguk.</p>
<p>&#8220;Lengkap sudah. Kita sudah menyanyi memuji Tuhan, berdoa dan mendengar Firman Tuhan. Dan sekarang kita melaksanakannya,&#8221; kata Papa.</p>
<p>&#8220;Mati lampu pun bisa membuat hati kita senang,&#8221; kata Nadia dengan wajah berseri-seri.</p>
<p>Dodi mengantarkan lampu darurat itu dan kembali ke rumah. Tak lama kemudianterdengar suara anak-anak tetangga berseru, &#8220;Horeeee!&#8221; <i>Byaaar, </i>listrik menyala.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sekolahminggu.com/ketika-lampu-mati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;Nothing But The Blood Of Jesus&#8221;</title>
		<link>http://sekolahminggu.com/nothing-but-the-blood-of-jesus/</link>
		<comments>http://sekolahminggu.com/nothing-but-the-blood-of-jesus/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 25 Feb 2012 19:00:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[Sekolah Minggu]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Alkitab]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Sekolah Minggu]]></category>
		<category><![CDATA[kumpulan kesaksian kristen]]></category>
		<category><![CDATA[laura basuki kristen]]></category>
		<category><![CDATA[lelucon kristen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sekolahminggu.com/?p=858</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Nothing But The Blood Of Jesus&#8221; by : sekolah minggu Music &#38; Words: Robert Lowry Paulus menulis dalam Roma 3:25: &#8220;Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya.&#8221; Darah Tuhan Yesus Kristus tercurah untuk menebus orang<span class="ellipsis">&#8230;</span><div class="read-more"><a href="http://sekolahminggu.com/nothing-but-the-blood-of-jesus/">Read more &#8250;</a></div><!-- end of .read-more -->]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h1><a title="logo kristen" href="http://sekolahminggu.com/nothing-but-the-blood-of-jesus/" target="_blank"><span style="color: #ff0000;"><b>&#8220;Nothing But The Blood Of Jesus&#8221;</b></span></a></h1>
<p>by : <a title="mengenal kristen" href="http://sekolahminggu.com/nothing-but-the-blood-of-jesus/" target="_blank"><em><span style="color: #ff0000;">sekolah minggu</span></em></a></p>
<p><b>Music &amp; Words: Robert Lowry</b></p>
<p>Paulus menulis dalam Roma 3:25: &#8220;Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya.&#8221; Darah Tuhan Yesus Kristus tercurah untuk menebus orang yang berdosa. Seperti yang dituliskan dalam lagu ini, apakah yang bisa menyucikan kita dari dosa? &#8220;Nothing but the blood of Jesus.&#8221;</p>
<p>Bagaimanakah cara kita selamat? Hanya karena darah Yesus yang sudah menyucikan kita. Keselamatan yang sudah kita peroleh adalah karena Kristus yang sudah mengorbankan diri-Nya untuk menebus kita. Dosa kita sudah diampuni karena darah Kristus yang sudah tercurah untuk kita yang berdosa. Dikatakan dalam Ibrani 9:22: &#8220;Hampir segala sesuatu disucikan menurut hukum Taurat dengan darah, dan tanpa penumpahan tidak ada pengampunan.&#8221;</p>
<p>Penulis lagu ini adalah Pendeta Robert Lowry. Dia lahir pada 12 Maret 1862 di Philadelphia. Pendeta Robert menerima Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat hidupnya pada saat berumur 17 tahun. Dia menyerahkan dirinya untuk melayani Tuhan seumur hidup. Setelah lulus dari SMA, dia melanjutkan pelajarannya di Bucknell University. Kemudian dia melayani di gereja yang ada di Philadelphia, New Jersey, New York City, dan Brooklyn. Dia melayani sampai berumur 73 tahun.</p>
<p>Selain berkhotbah, dia juga menulis lagu. Salah satu lagu yang dia tulis adalah <b>&#8220;Nothing but the Blood of Jesus.&#8221; </b>Dia juga menulis musik untuk lagu-lagu hymn yang lain seperti &#8220;Berjalan ke Sion, Ya Tuhan tiap jam, dan Sepanjang jalan Tuhan pimpin. Adakah di antara lagu-lagu yang dia tulis itu yang kamu kenal? Kalau belum, cobalah cari lagu-lagu itu. Kamu akan semakin banyak mengenal lagu hym.</p>
<p>Bagaimana Robert Lowry menuliskan suatu musik? Dia mengatakan:</p>
<blockquote><p><strong><span style="color: #000080;"><i>&#8220;I have no set method. Sometimes, the music comes and the words follow&#8230;.I watch my moods, and when anything strikes me, whether words or music, no matter where I am, at home or on the street, I jot it down&#8230;.My brain is sort of a spinning machine, for there is music running through it all the time. The tunes of nearly all the hymns I have written have been completed on paper, before I tried them on the organ. Frequently, the word of the hymn and the music have been written at the same time.&#8221;</i></span></strong></p></blockquote>
<p><em><strong><span style="color: #003300;">[Aku tidak punya metode tertentu. Kadang-kadang, music itu datang dengan diikuti kata-katanya.... Ketika perasaanku tersentuh oleh musik atau pun kata-kata entah itu di rumah ataupun di jalan, aku langsung menulis sebuah lagu.... Musik selalu ada dalam pikiranku setiap waktu. Aku menuliskan nada-nada dulu lalu mencobanya di organ. Seringkali, kata-kata dan melodi dari suatu lagu kutuliskan pada saat bersamaan.]</span></strong></em></p>
<p><b>Kamu juga mungkin bisa menulis musik untuk Tuhan. Siapa tahu. Mau coba?</b></p>
<p><b> </b></p>
<p><b>                                                                    <i>Oleh : Kak Lukman Sabtiyadi</i></b></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sekolahminggu.com/nothing-but-the-blood-of-jesus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
