<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Sekolah Minggu &#187; suluh sekolah minggu</title>
	<atom:link href="http://sekolahminggu.com/tag/suluh-sekolah-minggu/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sekolahminggu.com</link>
	<description>Anugerah Datang Dari Allah</description>
	<lastBuildDate>Wed, 02 Nov 2016 09:04:21 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=3.9.40</generator>
	<item>
		<title>Ketika Sahabat Sakit</title>
		<link>http://sekolahminggu.com/ketika-sahabat-sakit/</link>
		<comments>http://sekolahminggu.com/ketika-sahabat-sakit/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 Jun 2012 16:59:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[Sekolah Minggu]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Alkitab]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Sekolah Minggu]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah minggu rajawali]]></category>
		<category><![CDATA[suara sekolah minggu]]></category>
		<category><![CDATA[suluh sekolah minggu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sekolahminggu.com/?p=1232</guid>
		<description><![CDATA[Ketika Sahabat Sakit by : Sekolah Minggu Begitu masuk ke rumah sepulang sekolah, Rima berkata kepada Mama, &#8220;Ma, Elen tidak masuk sekolah. Wah, aku sangat kesepian!&#8221; Mama yang baru meletakkan semangkuk sayur di meja makan tersenyum dan berkata, &#8220;Elen sakit<span class="ellipsis">&#8230;</span><div class="read-more"><a href="http://sekolahminggu.com/ketika-sahabat-sakit/">Read more &#8250;</a></div><!-- end of .read-more -->]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h1><a title="/ketika-sahabat-sakit/" href="http://sekolahminggu.com/ketika-sahabat-sakit/" target="_blank"><span style="color: #ff0000;"><b>Ketika Sahabat Sakit</b></span></a></h1>
<p>by :<a title="/ketika-sahabat-sakit/" href=" http://sekolahminggu.com/ketika-sahabat-sakit/" target="_blank"><em><span style="color: #ff0000;"> Sekolah Minggu</span></em></a></p>
<p>Begitu masuk ke rumah sepulang sekolah, Rima berkata kepada Mama, &#8220;Ma, Elen tidak masuk sekolah. Wah, aku sangat kesepian!&#8221;</p>
<p>Mama yang baru meletakkan semangkuk sayur di meja makan tersenyum dan berkata, &#8220;Elen sakit panas. Tadi pagi mamanya telepon, tetapi kamu sudah berangkat ke sekolah!&#8221;</p>
<p>&#8220;Wah kasihan, aku telpon dia sekarang ya?&#8221; kata Rima.</p>
<p>&#8220;Oh&#8230; syukurlah kalau panasnya sudah turun. Tadi aku juga bawa puisi yang baru kubuat. Sebelum kukirim ke majalah anak-anak aku mau kamu membacanya&#8230;. Ya, ya, besok kita ketemu &#8221; celoteh Rima di  telpon.</p>
<p>Sambil menikmati makan siang, Rima bercakap-cakap dengan Mama.</p>
<p>&#8220;Nasi goreng untuk Elen kamu berikan kepada siapa?&#8221; tanya Mama. &#8220;Tadi Mama lihat kotaknya sudah kosong!&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku berikan kepada Lusi. Kebetulan dia tidak bawa bekal hari ini!&#8221; jawab Rima. &#8220;Karena Elen sakit, aku tidak punya teman sebangku. Wah, rasanya sepi sekali!&#8221;</p>
<p>&#8220;Kita sangat penting di mata Allah. Allah mengerti kalau kamu kesepian. Dan dia memberikan kesempatan untuk kamu bicara dengan Lusi dan memberikan nasi goreng!&#8221;</p>
<p>&#8220;Tetapi lain lah Ma, Lusi itu hanya sekedar teman dan Elen itu sahabatku!&#8221; kilah Rima. &#8220;Tak apalah. Pokoknya aku senang karena katanya Elen sudah bisa masuk sekolah besok!&#8221;</p>
<p>Esoknya pagi-pagi Rima berangkat ke sekolah. Hari ini Mama masak nasi tim. Rima menyiapkan kotak untuk Elen juga. Tiba di sekolah, Rima mencari sahabatnya. Namun, hingga bel masuk berbunyi Elen tidak kelihatan. Rupanya dia masih sakit.</p>
<p>Rima berusaha konsentrasi pada pelajaran, namun tetap saja rasanya kurang nyaman karena Elen tidak berada di sampingnya. Waktu istirahat, Rima duduk sendiri makan bekalnya di bangku keramik panjang halaman sekolah. Tiba-tiba Lusi mendekatinya.</p>
<p>&#8220;Elen masih sakit ya?&#8221; tanya Lusi.</p>
<p>&#8220;Iya. Kemarin siang kutelpon katanya panasnya sudah turun dan hari ini mau ke sekolah. Aku bawakan dia nasi tim. Kamu mau?&#8221; Rima menawarkan dan menyodorkan kotak berisi nasi tim.</p>
<p>&#8220;Terima kasih, hari ini aku bawa roti. Kalau boleh aku sarankan berikan saja pada Hana. Hana sering menahan lapar. Ibu dan ayahnya sudah bercerai dan dia tinggal dengan neneknya. Jadi kalau neneknya tidak menyediakan bekal, dia tidak bawa apa-apa!&#8221; jawab Lusi.</p>
<p>Dug, hati Rima tersentak. Karena hanya bergaul dengan Elen, dia tidak begitu mengenal teman-teman yang lain. Rima mengangguk. Lusi memanggil Hana. Hana sangat berterima kasih dan ia duduk di samping Rima dan makan nasi tim itu dengan lahap. Mereka bercakap-cakap dan Rima baru tahu kalau Hana juga suka menulis puisi.</p>
<p>&#8220;Aku menyimpan puisiku di flashdisk. Kadang-kadang aku kirim ke majalah anak-anak. Tetapi lebih sering ke situs anak-anak di internet, karena dimuatnya lebih cepat!&#8221; Hana bercerita. &#8220;Di rumahku tidak ada internet, jadi kalau mau kirim aku ke rumah tanteku. Dua kali naik bis!&#8221;</p>
<p>&#8220;Oh, kalau mau kirim pakai internet di rumahku juga bisa. Lebih dekat kan!&#8221; Rima menawarkan dengan gembira.</p>
<p>&#8220;Wah, terima kasih ya. Memang aku juga ingin main ke rumahmu dan melihat kumpulan puisi yang sudah kamu tulis. Nanti aku juga bawa puisi-puisiku!&#8221; jawab Hana dengan semangat.</p>
<p>Tiba-tiba saja Rima merasakan sukacita di hatinya. Rupanya Hana juga menulis puisi. Wah, ternyata Tuhan kirimkan satu teman lagi untuk Rima.</p>
<p>Benar kata Mama, kita ini penting di mata Tuhan. Dan Tuhan selalu memberikan yang terbaik untuk kita. Dan Tuhan juga membukakan mata Rima bahwa ia bisa memperhatikan teman-teman yang lain, tidak hanya berpusat pada Elen saja.</p>
<p>Ketika Rima sampai di rumah, Mama berkata, &#8220;Elen masih sakit, semalam badannya panas lagi. Kata dokter gejala tipus. Tetapi, mengapa wajahmu bersukacita? Kan sahabatmu belum bisa masuk sekolah!&#8221;</p>
<p>&#8220;Puji Tuhan, Ma. Tuhan Yesus sangat baik. Sambil makan aku akan ceritakan pada Mama!&#8221; Kata Rima. &#8220;Aku ganti baju dan cuci tangan dulu ya!&#8221;</p>
<p><i><b>Artikel bersumber dari : Majalah Anak</b></i></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sekolahminggu.com/ketika-sahabat-sakit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PANJANG UMUR BUKAN PALING PENTING</title>
		<link>http://sekolahminggu.com/panjang-umur-bukan-paling-penting/</link>
		<comments>http://sekolahminggu.com/panjang-umur-bukan-paling-penting/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Mar 2012 18:09:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[Sekolah Minggu]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Alkitab]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Sekolah Minggu]]></category>
		<category><![CDATA[satu anak tuhan pergi sekolah minggu]]></category>
		<category><![CDATA[soal alkitab sekolah minggu]]></category>
		<category><![CDATA[suluh sekolah minggu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sekolahminggu.com/?p=967</guid>
		<description><![CDATA[PANJANG UMUR BUKAN PALING PENTING by : Sekolah Minggu Kejadian 5 : 1 &#8211; 32 &#8220;Enam puluh lima tahun, enam puluh lima tahun,&#8221; Timtim menggumam dengan dahi berkerut seperti seorang profesor yang sedang berpikir. Timtim masuk ke kamarnya, melewati Vivi<span class="ellipsis">&#8230;</span><div class="read-more"><a href="http://sekolahminggu.com/panjang-umur-bukan-paling-penting/">Read more &#8250;</a></div><!-- end of .read-more -->]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h1><a title="/panjang-umur-b…paling-penting/" href="http://sekolahminggu.com/panjang-umur-b…paling-penting/" target="_blank"><em><strong><span style="color: #ff0000;">PANJANG UMUR BUKAN PALING PENTING</span></strong></em></a></h1>
<p>by : <a title="/panjang-umur-b…paling-penting/" href="http://sekolahminggu.com/panjang-umur-b…paling-penting/" target="_blank"><em><span style="color: #ff0000;">Sekolah Minggu</span></em></a></p>
<p>Kejadian 5 : 1 &#8211; 32</p>
<p>&#8220;Enam puluh lima tahun, enam puluh lima tahun,&#8221; Timtim menggumam dengan dahi berkerut seperti seorang profesor yang sedang berpikir.</p>
<p>Timtim masuk ke kamarnya, melewati Vivi yang memandang kakaknya dengan terheran-heran.</p>
<p>Terdengar suara Mama, memanggil mereka untuk makan siang. Tetapi Timtim tetap berkonsentrasi membaca Alkitab. Terdengar suara Mama memanggil untuk kedua kalinya, barulah Timtim beranjak dari  meja belajarnya dan berjalan menuju ruang makan.</p>
<p>&#8220;Nanti malam saya harus bertanya pada Papa,&#8221; gumam Timtim. Sepertinya ada sesuatu yang membuat hatinya bertanya-tanya.</p>
<p>Seperti biasa, setelah makan malam adalah waktu renungan keluarga.</p>
<p>Selesai Papa memimpin doa pembukaan, dengan tidak sabar Timtim bertanya, &#8220;Pa, mengapa umur orang pada zaman sekarang lebih pendek daripada umur orang di kitab Kejadian?&#8221;</p>
<p>&#8220;Mengapa kamu bertanya demikian, Timtim?&#8221; tanya Papa. Sementara itu Vivi ikut memperhatikan kakaknya dengan penuh perhatian.</p>
<p>&#8220;Ya, Kakek Thomas meninggal dunia dan umurnya baru 65 tahun, Pa, padahal di kitab Kejadian umur manusia sampai ratusan tahun.&#8221;</p>
<p>Vivi cepat-cepat membuka Alkitabnya. Dia tidak mau ketinggalan dari kakakny.</p>
<p>Setelah menemukan ayat yang dimaksud kakakny, Vivi berseru, &#8220;Benar, Pa! Di Kejadian 5:4 umur Set ditulis 800 tahun! Wah, hebat sekali, ya&#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Coba lihat, siapa saja yang dituliskan di situ,&#8221; jawab Papa.</p>
<p>Timtim dan Vivi dengan seru menyebutkan satu per satu nama orang-orang yang tercatat di Kejadian 5:1-32, juga umur mereka.</p>
<p>&#8220;Nah, siapa yang umurnya paling banyak?&#8221;</p>
<p>Vivi berseru penuh kemenangan, seolah-olah mereka sedang berlomba cerdas cermat Alkitab, &#8220;Aku tahu! Metusalah, 999 tahun!&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, benar. Nah, sekarang perhatikan baik-baik, anak-anak. Ketika Alkitab menuliskan umur-umur mereka, bukan berarti hal itu adalah yang paling penting. Ada hal lain yang Alkitab mau beri tahukan kepada kita!</p>
<p>&#8220;Sekarang, lihat apa yang dikatakan Alkitab tentang Henokh. Timtim yang baca!&#8221;</p>
<p>Timtim membaca Kejadian 5:21-24 tentang Henokh. Dikatakan Henokh hidup bergaul dengan Allah.</p>
<p>&#8220;Sekarang giliran Vivi membaca tentang Nuh!&#8221;</p>
<p>Vivi pun membaca Kejadian 5:28-32. Nuh dikatakan akan menjadi anak yang memberikan penghiburan.</p>
<p>&#8220;Nah, kalian perhatikan. Alkitab memberikan keterangan tambahan untuk Henokh dan Nuh, bukan?&#8221;</p>
<p>Serempak Timtim dan Vivi mengangguk.</p>
<p>&#8220;Sementara yang lainnya tidak ada keterangan tambahan, bukan?&#8221;</p>
<p>Sekali dengan serempak Timtim dan Vivi mengangguk.</p>
<p>&#8220;Mengapa demikian? Karena keterangan tambahan itulah yang paling penting, bukan jumlah umurnya. Hidup bergaul dengan Allah  lebih penting daripada panjangnya umur kita. Itulah yang hendak Alkitab katakan kepada kita.&#8221;</p>
<p>Sekali lagi dengan serempak Timtim dan Vivi mengangguk.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Artikel bersumber dari : Majalah Anak</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sekolahminggu.com/panjang-umur-bukan-paling-penting/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
