Andrew Gih Reformasi

   Reformasi

by Sekolah Minggu

   Andrew    Selama satu tahun ini sejarah reformasi dan pengaruhnya di beberapa negara di seluruh dunia disajikan. Kita juga melihat tokoh-tokoh reformasi yang ikut serta menyebarkan pengaruh reformasi. Sampai sekarang pengaruh reformasi masih dapat dirasakan. Pengaruh apa sajakah itu? Pertama, Tuhan memelihara gereja-Nya melalui orang-orang yang setia kepada-Nya dan mempertahankan kemurnian ajaran Alkitab. Kedua,amanat agung Tuhan Yesus untuk memberitakan injil terus dijalankan. Gereja yang memegang teguh kebenaran firman Tuhan juga adalah gereja yang mengabarkan Injil. Gereja yang mengerti firman Tuhan adalah gereja yang tahu isi hati Tuhanbagi dunia, karena itu pergi mengabarkan Injil.

      Di edisi terakhir dari “Mari mengenal Reformasi” ini akan kita lihat satu tokoh penginjil besar dari Cina yang memiliki pengaruh sangat besar di Asia bahkan sampai ke Indonesia. Beliau bernama Ji Zhiwen yang lebih dikenal di Indonesia dengan nama Andrew Gih.

     Siapakah Andrew Gih? Andrew dibesarkan di sebuah keluarga dengan tradisi ajaran Konfusius. Ayahnya mendirikan sekolah yang mengajarkan ajaran Konfusius dan ibunya adalah seorang penganut Budha. Jadi, Andrew sangat mengerti ajaran Budha. Ketika ia berusia dua belas tahun, ayahnya meninggal karena sakit.

     Setelah kematian ayahnya, Andrew membantu ibunya untuk menghidupi keluarganya dengan bekerja keras. Dia kemudian bekerja di sebuah toko pakaian. Karena kebutuhan untuk menguasai bahasa Inggris, Andrew belajar di sebuah sekolah yang didirikan oleh misionaris dari barat. Karena peraturan sekolah Andrew diharuskan membaca Alkitab yang kemudian menjadi buku teks dalam ia mempelajari bahasa Inggris.

     Suatu hari seorang misionaris datang ke sekolah tersebut dan berkhotbah. Khotbah itu menusuk hati Andrew dan meyakinkannya akan dosa-dosanya sehingga ia menangis dan meminta pengampunan dari Tuhan.

     Walaupun pada tahun 1942 ia memiliki posisi pekerjaan yang baik dengan gaji yang tinggi, ia tidak merasakan kepuasan. Pada tahun 1925 pada suatu Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR), Andrew menyerahkan diri untuk melayani Tuhan untuk memberitakan Injil. Ia kemudian mundur dari pekerjaannya dan mengucapkan selamat tinggal kepada keluarganya untuk pergi memberitakan Injil. Pada tahun 1926 ia ditahbiskan menjadi hamba Tuhan penuh waktu dan memulai perjalanannya di Guangxi, Guangdong, Fujian, Xiamen dan lokasi-lokasi  lain untuk mengadakan KKR.

     Andrew kemudian kembali ke Shanghai dan menikah dengan Dorcas Zhang pada tahun 1928. Melalui pelayanannya gereja-gereja di Cina mengalami kebangunan rohani, tidak hanya di daerah utara dan selatan Cina tetapi meluas hingga ke perbatasan di Mongolia, Tibet, Yunnan, dan Xinjiang.

     Pada tahun 1938, Andrew dengan Dr. James Edwin Orr pergi ke Vietnam mengadakan KKR di Hanoi juga di Saigon yang menimbulkan suatu kebangunan rohani di gereja setempat.

     Setelah perang dunia, Andrew pergi ke Hongkong, mendirikan gereja dan juga panti asuhan bagi anak-anak yang kehilangan orang tuanya karena perang. Dalam mengusahakan panti asuhan itu ia mendapatkan dana dari teman-temannya di Amerika.

     Pada tahun 1943 ia membawa sejumlah anak yatim-piatu dari Shanghai untuk mengungsi ke Hongkong karena Jepang menduduki kota tersebut. Perjalanan yang berat memperburuk penyakit Tbc yang dideritanya dengan ditandai muntah darah. Ia dirawat di Hongkong dan menetap di sana.

     Gereja yang dipimpinnya setiap minggu dihadiri oleh sekitar 1.200 jemaat. Pada tahun 1950 ia dianugerahi gelar Doktor dari Cassada College di Amerika. Institusi yang terkenal yang dipimpinnya, Chinese Evangelization Society, dimulai di Taiwan pada tahun 1948. Baru kemudian di tahun 1950 Andrew memperluas pelayanannya ke Asia Tenggara. Ia berkeliling berkhotbah ke lebih dari 50 negara.

     Karena dibutuhkan hamba-hamba Tuhan untuk meneruskan pekerjaan-Nya, Andrew juga mendirikan sekolah-sekolah Alkitab. Salah satunya adalah SAAT (Sekolah Alkitab Asia Tenggara) di Malang.

     Andrew menghabiskan masa pensiunnya di Los Angeles tempat kantor pusat Chinese Evangelization Society berada. Walau menderita Tbc sejak masa mudanya, ia telah dipakai Tuhan dengan luar biasa. Pada bulan Januari 1985 ia menjalani operasi paru-paru, dan tanggal 13 Februari ia meninggal dunia. Usianya pada waktu itu adalah 85 tahun.

 Oleh : Kak Chrisnah

  • Tahukah Kamu ?

     Seorang tokoh besar gerakan reformasi di Indonesia, Pdt.Dr. Stephen Tong, menyerahkan diri menjadi hamba Tuhan penuh waktu pada konferensi pemuda yang dipimpin oleh Andrew Gih di sebuah kota dekat Surabaya.Pdt. Dr.Stephen Tong meneruskan perjuangan menegakkan Teologia Reformed dan penginjilan di Indonesia dan kota-kota besar di seluruh dunia.

Artikel bersumber dari : Majalah Anak

Posted in Cerita Alkitab, Cerita Sekolah Minggu, Renungan
Tags: , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *

1,254 Spam Comments Blocked so far by Spam Free Wordpress

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Copy Protected by Chetans WP-Copyprotect.