Antara Dimsum & Ke Gereja

Antara Dimsum & Ke Gereja

by : Sekolah Minggu

                     img059 Aseng gendut berbicara dengan riang di hadapan ketiga temannya, Raju, Lukas, dan Koko. Mereka sekelas dan juga tinggal dalam satu kompleks perumahan. Hari masih pagi dan suasana di halaman sekolah belum begitu ramai karena mereka biasa datang lebih awal.

“Jadi, besok pagi kutunggu kalian jam tujuh di rumahku. Papa dan mamaku mengajak kita makan dim sum di restoran Istana,” kata Aseng. “Dim sumnya enak, loh.”

“Wah, terima kasih. Besok aku datang,” sambut Raju. Ia seorang anak India yang bertubuh tinggi dan kulitnya sangat hitam, kontras dengan giginya yang putih.

Lukas dan Koko berpandangan. Besok hari Minggu. Kalau mereka ikut makan dim sum, itu artinya harus bolos ke sekolah minggu. Aseng belum percaya kepada Tuhan Yesus, tidak heran ia mengajak mereka pergi makan pada hari Minggu pagi.

“Kalau hari lain tidak bisa, ya? Kami harus ke sekolah minggu,” kata Koko.

“Voucher-voucher untuk makan gratis itu hanya berlaku pada pagi hari. Kalau hari biasa kita kan harus sekolah,” Aseng menjelaskan. “Sayang kalau kalian tidak ikut. Kapan lagi makan enak gratis?”

Terbayang dibenak Koko siomai, pangsit, lunpia, kue ketan dan tentu saja ceker ayam kesukaannya. Lalu muncul bayangan teman-teman dan guru kelas sekolah minggunya.

“Kurasa tak apa kalau kita bolos dari sekolah minggu, kali ini saja,” tiba-tiba Lukas berkata. Namun Koko mengatakan ia belum bisa memutuskan.

 Pulang sekolah sambil makan Koko memberitahu rencana Aseng itu pada Mama. Ia mengharapkan Mama mengizinkan atau melarang. Tetapi Mama berkata, “Kamu renungkan saja dulu, mana yang lebih baik. Nanti beritahu Mama keputusanmu.”

“Aah, Mama, aku kan tanya Mama karena bingung harus memilih yang mana,” Koko agak merajuk.

Setelah mengerjakan PR Koko pamit mau main catur di rumah Raju. Raju juga sangat suka bermain catur, mereka berdua terus memperbaiki ketrampilan bermain catur.

Koko tiba di rumah Raju dengan membawa kotak caturnya yang besar.

“Maaf, Ko, hari ini tidak bisa. Papaku dapat pinjaman mobil. Jadi kami mau pergi sembahyang di kuil tiga dewa,” Raju menolak.

“Satu set saja, Raju,” bujuk Koko.

Raju menggeleng, “Aku harus cepat-cepat mandi. Perjalanan ke kuil bisa 1,5-2 jam.”

“Uuuh,mau sembahyang, kok, repot amat. Tempatnya begitu jauh,” komentar Koko kecewa. Ia ingat gerejanya yang berada di kompleks perumahan mereka.

“Ini belum seberapa. Kakekku petani di India. Setiap pagi ia bangun ketika hari masih gelap, mandi di sungai dan kemudian berjalan satu jam untuk sembahyang di kuil,” kata Raju. “Tidak peduli hari panas atau hujan, sakit atau sehat, sepanjang dia masih bisa jalan itu dilakukannya selama puluhan tahun. Ia selalu mohon supaya dewi kesuburan memberikan panen yang bagus.”

Koko terkesan dengan kesetiaan kakek Raju pada dewi yang disembahnya. Sambil berjalan pulang ia teringat juga akan kisah-kisah misionaris yang setia mengabarkan Injil walaupun menghadapi berbagai rintangan. Namun, bayangan dim sum yang lezat terus menggoda. Koko masih belum bisa mengambil keputusan.

Di jalan Koko bertemu dengan Riki yang membawa Alkitab.

“Mau ke mana, Ki?” tanya Koko.

“Ke gereja. Kan ada acara doa setiap Sabtu sore,” jawab Riki. “Mau ikut?”

“Tidak, ah. Itu kan acara orang dewasa,” kata Koko.

“Acara doa untuk semua umur, Ko. kan berbicara dengan Bapa di surga. Lewat doa kita bisa mendukung pekerjaan Tuhan,” kata Riki, lalu melanjutkan perjalanannya.

“Riki sih calon pendeta,” Koko berkilah dalam hati. Tetapi, harus diakuinya apa yang dikatakan Riki memang benar. Tak pantas rasanya bolos ke sekolah minggu demi makanan saja. Tiba-tiba saja ia berbelok ke arah rumah Aseng. Di teras rumah Aseng, Koko memberitahukan bahwa besok ia tidak bisa ikut makan dim sum karena mau ke sekolah minggu.

“Ada apa ya di sekolah minggu sampai kamu rela tidak makan dim sum yang lezat?” tanya Aseng heran.

“Ada Firman Tuhan yang memberitahu kita apa yang benar dan salah. Ada cerita tentang Tuhan Yesus, Allah yang kami sembah, Allah yang rela berkorban untuk menyelamatkan manusia,”

jawab Koko lancar. “Ikut saja minggu depan supaya kamu tahu.”

Setiba di rumah Koko bercerita dengan penuh semangat kepada Mama bagaimana akhirnya ia mengambil keputusan. Mama memandang Koko dengan bangga, “Sekarang kamu sudah punya pengalaman tentang mengutamakan Allah. Begitulah Seharusnya.”

 Artikel bersumber dari : Majalah Artikel

Posted in Cerita Alkitab, Cerita Sekolah Minggu, Sekolah Minggu
Tags: , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *

1,254 Spam Comments Blocked so far by Spam Free Wordpress

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Copy Protected by Chetans WP-Copyprotect.