JOHANN GOTTLIEB SCHWARZ (21 April 1800 – 1 Februari 1859)

JOHANN GOTTLIEB SCHWARZ                                                                                                           (21 April 1800 – 1 Februari 1859)

by : Sekolah Minggu

Soren Kierkegaard

Alkitab adalah bacaannya sehari-hari, cerita misi adalah cerita kesukaannya, dan menjadi misionaris adalah cita-citanya. Itulah Johann Gottlieb Schwarz. Ia lahir pada tanggal 21 April 1800 di kota Konigsbergen, Jerman Timur.

Orang-tuanya yang saleh dan taat, sangat mendukung ketika ia memutuskan akan pergi belajar di “Zendeling Intitut” yang dibuka untuk mendidik pendeta-pendeta penginjil di kota Berlin yang didirikan oleh Ds. Jaeke.

Pada bulan November 1830 NZG (Nederlandsch Zendeling Genootscahp) mengirim Johann Frederick Riedel ke Indonesia. Bersama dengan Douwes Dekker, ia meninggalkan Belanda menuju dan sampai di Batavia (Jakarta). Kemudian ia ke Surabaya, dan tiba di Ambon pada tanggal 23 November 1830. Di sana ia belajar bahasa Melayu. Pada tanggal 12 Juni 1931 ia tiba di Manado. Sekarang tanggal 12 Juni diperingati Gereja Masehi Injil di Minahasa sebagai HUT Pekabaran Injil.

Sebelum agama Kristen masuk ke Langowan, penduduk di sana sudah beragama. Pada waktu kedatangan Schwarz, penduduk Longawan memiliki tempat berkumpul untuk mengadakan upacara keagamaan mereka. Di tempat itu terdapat sebuah pohon besar yang dalam bahasa Tountemboan disebut wates.

Pohon itu berdaun lebat dan pada batangnya terdapat lobang besar yang dalam bahasa Toutemboan disebut rangowa. Pohon itu dianggap keramat sebab menjadi tempat pasoringan (dari asal kata soringan yang berarti alat bunyi yang dibuat dari bambu yang diberi lobang dan jika ditutup analog dengan bunyi wala/burung manguni). Jadi, pasoringan berarti tempat memanggil dan mendengarkan bunyi burung wala oleh Walian dan Tona’as atau pemimpin-pemimpin pemerintahan.

Schwarz sangat rajin dan memiliki karakter yang baik. Dengan tidak henti-hentinya ia mengendarai kuda dari Loangowan ke Minahasa Selatan, dan Minahasa Utara sampai ke Likupang. Siang dan malam sama saja baginya untuk menunaikan tugasnya sebagai seorang penginjil. Badannya yang gemuk tidak menjadi halangan baginya.

Schwarz juga menemukan kesulitan ketika memberitakan Injil, yaitu masalah bahasa. Untuk dapat berkomunikasi dengan penduduk, Schwarz memberikan obat-obat malaria, demam, obat-obat luka, dan lain-lain yang dapat menolong orang-orang sakit dan sebagai penentang mantra dari walian-walian.

F.Constans, anak dari opziener kopi di Kema, menikah dengannya pada tahun 1834. F. Constans mahir menggunakan bahasa Melayu, Tombulu, Tonsea, dan Tountemboan. Ia adalah orang yang dikirim Tuhan untuk menolong Schwarz bercakap-cakap dengan orang sakit, dengan penduduk yang dikunjunginya dalam bahasa daerah.

Setelah hambatan bahasa diatasi, Schwarz masih harus menghadapi Kepala Walak (pemerintah), Majoor Sigar, yang masih beragama alifuru dan istrinya, Walian Tulus, (pemumpin agama). Akibatnya, dari tahun 1832 sampai 1833 orang yang dibaptis baru 6 orang. Pada akhir tahun 1839 orang yang sudah dibaptis menjadi Kristen menjadi 212 orang. Dan Majoor Sigar menjadi Kristen pada tahun 1841 dengan nama Benyamin Tawalijn Thomas Sigar. Segera ia diikuti oleh orang-orang Langowan, sehingga sejak itu agama Kristen berkembang pesat di Langowan. Pada bulan September 1842 di Langowan yang sudah dibaptis ada sekitar 300 orang.

Pada akhir tahun 1848 pelayanan Schwarz mencakup Langowan, Ratahan, Kakas, Remboken, Tompaso Kawangkoan, dan Sonder. Sudah terdapat 15 sekolah dengan jumlah muridnya kurang lebih sebanyak 1300 orang. Jumlah anggota sidi jemaat ada kira-kira 1.000 orang dan jumlah baptisan kurang lebih 3.000 orang.

Bangunan gereja yang pertama-tama di Langowan ditahbiskan pada tanggal 18 April1847. Sekarang di tempat itu terdapat gereja GMIM Sentrum Schwarz, padahal dahulu adalah pusat agama alifuru.

Pada tanggal 12 Juni 1856 diadakan perayaan 25 tahun Johan Gottlieb Schwarz masuk ke Minahasa. Perayaan itu diadakan di gedung gereja yang pertama dan satu-satunya di Langowan pada masa itu.

Tiga tahun setelah perayaan itu Johann Gottlieb Schwarz meninggal dunia di Manado pada 1 Februari 1859. Ia dimakamkan di Langowan pada tanggal 2 Februari 1859. Kuburan Schwarz bersama istrinya sekarang ada di lapangan olah raga GMIM Langowan.

Artikel bersumber dari : Majalah Anak

Posted in Cerita Alkitab, Cerita Sekolah Minggu
Tags: , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *

1,254 Spam Comments Blocked so far by Spam Free Wordpress

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Copy Protected by Chetans WP-Copyprotect.