KAPAN WAKTU BERDOA?

KAPAN WAKTU BERDOA?

by : Sekolah Minggu

Hari itu ujian yang sulit sekali di sekolah. Aku memang tidak suka pelajarannya, jadi aku menunda-nunda terus belajar samapi satu hari sebelum ujian. Kemarin aku tidak sempat selesai belajar karena ada seorang temanku yang menelepon dan bercerita mengenai anak anjingnya yang baru.

Sewaktu aku lewat depan televisi untuk meletakkan kembali telepon, aku melihat film kartun kesukaanku, dan aku harus tahu akhirnya. Setelah film itu selesai, aku tertidur di sofa sampai orang tuaku pulang. Aku berencana belajar sampai larut malam. Tapi malam itu, setelah semua orang masuk ke kamar mereka masing-masing, rumah sepi sekali dan aku jadi mengantuk. Akhirnya aku tertidur sampai pagi.

Di sekolah, sebelum soal ujian dibagikan, temanku bertanya, “Kamu kelihatannya kuatir.” “Aku belum selesai belajar kemarin,” kataku.

“Ya sudah, jangan lupa berdoa supaya kamu dapat nilai bagus,” temanku menasihatiku.

Betul juga. Segera aku melipat tanganku, menutup mata dan berdoa dengan sungguh-sungguh, memohon kepada Tuhan supaya nilaiku jangan jelek. Aku percaya Tuhan pasti bisa membuat nilaiku bagus!

Ketika aku membuka mata, ibu guru sedang memandangiku. Aku tidak tahu kenapa, tetapi aku harus segera mengerjakan ujian, jadi aku tidak bertanya padanya.

Soal ujiannya sulit sekali. Aku benar-benar tidak bisa mengerjakan soalnya. Yang aku sudah pelajari pun, hilang semua. Aku hanya bisa berdoa.

Setelah ujian selesai, aku bertanya kepada ibu guru, “Bu, kapan hasilnya akan dibagikan?”

Ibu guru menjawab, “Mungkin tiga hari lagi. Bagaimana, kamu bisa atau tidak mengerjakannya?”

“Tidak bisa, bu, kemarin saya tidak selesai belajarnya,” aku mengaku.

“Ibu lihat kamu tadi berdoa sebelum ujian.”

“Iya, bu, karena tidak ada lagi yang bisa menolong saya selain Tuhan.”

“Oh betul, memang tidak ada yang bisa menolong selain Tuhan. Ibu mau tanya, Tuhan pasti mau menolong kita tidak?”

Pasti mau dong bu,” jawabku. “Tuahn kan baik.”

“Oh, begitu,” kata ibu guru. Tiba-tiba ibu guru bertanya, “Eh, kamu lapar tidak? Kamu suka telur dadar?”

“Suka, bu,” jawabku.

“Kamu mau ke rumah ibu guru sebentar? Nanti ibu masakkan telur dadar.” Rumah ibu guru memang dekat sekali dengan sekolah, dan aku harus menunggu kakakku yang pramuka untuk pulang sekolah.

“Mau bu!”

Di rumah ibu guru, aku duduk di kursi dapur sambil memperhatikan ibu guru memasak. Ibu guru memakai minyak goreng banyaaak sekali. Aku bingung. Biasanya ibuku tidak memakai minnyak begitu banyak kalau menggoreng telur.

“Pakai bawang merah jadi harum,” kata ibu guru. Ia mengambil bawang dari lemari di atas kompor. Tiba-tiba minyak memercik mengenainya, dan ibu guru kaget, jadi bawang itu tercemplung masuk kuali, lengkap dengan kulitnya dan tidak dipotong!

“Eh…eh…” kataku.

“Waah, bagaimana ini ya?” kata ibu guru sambil menyerok bawang yang sudah hitam keluar dari kuali. Bau gosong memenuhi dapur dan memenuhi hidungku. Leherku jadi gatal.

“Ini bawang terakhir ibu,” kata ibu guru. “Ibu tidak punya bawang lagi.”

“Tidak pakai bawang juga tidak apa-apa kok bu,” kataku dengan suara serak.

“Iya, ya, masih bisa kok,” kata ibu guru dengan ceria. Berikutnya ibu guru mengambil dua butir telur dan memecahkannya. Ketika ia sedang memasukkan isi telur ke dalam kuali, ia terpercik minyak panas lagi, dan…plung! Masuklah kulit telur ke dalam kuali!

“Wadoo,” komentar ibu guru smbil sibuk mengorek-ngorek pecahan kulit telur keluar dari telur yang mulai matang dan keras. Masih ada kulit telur tersisa di dalam masakan telur itu… Ibu guru mengaduk-aduk semuanya itu sambil menengok padaku dengan senyum lebar.

Aku hampir menangis. Masak aku harus makan telur dengan kulitnya?

“Kenapa kamu kelihatan sedih?” ibu guru bertanya.

“Ibu, saya tidak mau makan kulit telur,” kataku.

“Iya…ibu tahu, kamu mau telur dadar kan?” kata ibu guru. Ia menuangkan masakan aneh itu ke piring, dengan minyaknya yang membanjiri campuran kulit telur dan gumpalan telur dan serpihan-serpihan kulit bawang merah yang gosong. Rupanya benar-benar aneh. “Yuk kita berdoa, minta Tuhan menjadikan makanan ini menjadi telur dadar yang lezaat!”

Aku memandangi ibu guru dengan heran. “Tapi bu…tapi…”

“Kan kamu bilang Tuhan selalu mau menolong kita,” kata ibu guru.

“Tapi…tapi…tadi ibu masukkan kulit telur…dan ada kulit bawang…”kataku kebingungan. bertanya,”Apa Tuhan tidak bisa membuat kulit telurnya hilang? Dan kulit bawangnya hilang?”

Aku sibuk berpikir. PAsti Tuhan bisa. Tuhan bisa apa saja. Tapi apa Tuhan mau? Aku jadi teringat Tuhan Yesus yang berdoa di taman Getsemani, berkata,” Bapa, buatlah seperti yang Engkau mau, bukan yang Aku mau.” Atau tiga teman Daniel yang berkata, “Tuhan pasti bisa melepaskan kami dari api. Tapi kalau Tuhan tidak mau melepaskan kami, kami akan tetap percaya dan taat pada Tuhan.” Sepertinya tidak selalu Tuhan mau melakukan apa yang aku minta…

Ibu guru duduk disebelahku dan berkata, “Nak, Tuhan memang bisa melakukan apa saja. Tapi Tuhan tidak akan pernah mau memberikan yang tidak baik untuk kita anak-anak-Nya. Kalau kamu tidak belajar dan tetap dapat nilai baik, apakah kamu akan lebih rajin lain kali? Pasti tidak. Waktu kamu takut mendapat nilai jelek saja, kamu tetap tidak belajar. Apalagi kalau kamu yakin nilaimu tetap baik. Tuhan mau kita menjadi anak-anak yang rajin dan bertanggung jawab. Bukan anak yang bandel.”

“Karena Tuhan sayang kita ya bu, makanya Tuhan mengajar kita dan mau kita jadi anak yang baik?”

“Betul,” kata ibu guru. “Lain kali, berdoalah sebelum kamu belajar. Minta Tuhan menolongmu untuk rajin… Minta pertolongan Tuhan sebelum’masak,’ supaya kamu masak dengan baik; bukan waktu ujian, bukan waktu ‘masakannya sudah akan dimakan’…”

Aku teringat kesalahanku, tidak berdoa minta kekuatan untuk belajar, tidak berdoa minta pertolongan Tuhan menjadi anak yang rajin meski aku merasa susah. Tapi sekarang, nilaiku pasti jelek, bagaimana ini? “Bu,” kataku. “Kalau nilaiku jelek, bagaiamana dong?”

Ibu guru menepuk lembut pundakku, “Jadikan itu pelajaran dan peringatan, supaya lain kali kamu selalu ingat, untuk belajar dengan baik. Kamu punya banyak kesempatan untuk belajar. Seumur hidup adalah waktu belajar. Seperti telur ini? Sekarang kita tidak bisa makan masakan ini. Tapi kita bisa membuat yang baru, dan kali ini kamu ikut memasak, supaya ibu tidak salah lagi.” Ibu guru tersenyum padaku.

Aku tersenyum pada ibu guru . “Oke bu!” Kami menggoreng telur, dan sebelum itu ibu guru berdoa buat kami berdua, supaya kami selalu ingat untuk berdoa, dan bukan hanya waktu kami tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Kali ini telur digoreng dengan baik sekali dan aku makan dengan lahap.

Sore itu setelah pulang ke rumah, aku melewati televisi dan melihat film kartun kesukaanku. Wah, kalau aku menonton, waktu belajarku pasti habis. Segera aku berdoa minta Tuhan menolongku menjadi anak yang rajin dan bertanggung jawab. Dan Tuhan menjawab dooaku! Aku ingat akan cinta Tuhan kepadaku dan betapa Tuhan senang kalau aku rajin belajar. Aku pergi ke kamarku dan menutup pintu, dan belajar dengan baik. Memang tidak mudah, tetapi begitu aku malas, aku bisa berdoa lagi dan Tuhan tidak bosan mendengar doaku karena Ia memang menginginkanku menjadi anak yang rajin! Pela-pelan, hari demi hari, Tuhan mengajarku menjadi anak yang semakin rajin dan semakin senang belajar.

Kamu juga boleh berdoa kepada Tuhan kapan saja! Tuhan Yesus sayang pada semua anak-anak!

Artikel bersumber dari : Majalah Anak

Posted in Cerita Alkitab, Cerita Sekolah Minggu
Tags: , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *

1,254 Spam Comments Blocked so far by Spam Free Wordpress

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Copy Protected by Chetans WP-Copyprotect.