Wycliffe Mengawasi Penerjemahan Alkitab ke dalam Bahasa Inggris

Tahun 1380 Wycliffe Mengawasi Penerjemahan Alkitab ke dalam Bahasa Inggris

By Sekolah Minggu

Wycliffe“Seorang tokoh berperawakan tinggi dan kurus, ditutupi jubah hitam panjang dan ringan… kepalanya dihiasi jenggot yang bertumbuh lebat menampilkan ketampanan yang berpandangan tajam; matanya yang jernih dan menembus, bibir tertutup rapat sebagai tanda berpendirian teguh.”

Begitulah John Wycliffe  berdiri di depan uskup London pada tahun 1377, menjawab semua pertanyaan tentang ajaran sesat yang dituduhkan kepadanya. Temannya sekaligus pendukungnya, John Gaunt, pangeran Lancaster, melangkah dengan arogan ke dalam gereja. Pembicaraan apakah Wycliffe harus berdiri atau duduk berubah menjadi pertengkaran. Hal itu kemudian berubah menjadi pertikaian. John Gaunt pun lari menyelamatkan diri. Bayangkan saja, Wycliffe adalah seorang pemberani dan pembicara blak-blakan baik dalam teologi maupun pengetahuan. Tetapi dalam politik ia selalu terjebak dalam pertempuran antara dua pihak.

John Wycliffe adalah orang terpelajar yang terkemuka pada zamannya. Seluruh Inggris menghormati kebijakannya. Pendidikan di universitas masih merupakan fenomena baru ketika itu, dan peranan Wycliffe sungguhlah besar bagi reputasi Oxford, tempat ia belajar dan mengajar.

Namun, kehidupannya penuh dengan kontroversi. Ia mempunyai kebiasaan berbahaya, yaitu mengatakan apa yang dipikirkannya. Jika apa yang dipelajarinya membuatnya mempertahankan tentang ajaran Katolik resmi, ia langsung menyuarakannya. Ia mempertanyakan hak Gereja atas kuasa duniawi dan kekayaannya. Ia mempertanyakan juga penjualan surat-surat pengampunan dan jabatan-jabatan gerejawi, penyembahan para santo dan relikwi yang berbau takhayul, serta kuasa paus. Ia mempertanyakan juga pandangan resmi tentang Ekaristi (doktrin transubstansiasi) yang dikeluarkan oleh Konsili Lateran Keempat. Untuk pandangan-pandangan semacam ini dan lainnya, ia selalu harus membela diri di hadapan para uskup dan konsili-konsili.

Inggris penuh sentimen terhadap Gereja Roma, bahkan pada tahun-tahun 1300-an. Kepemimpinan sekuler sangat kuat di Inggris. Para pangeran – dan banyak orang awam – menyesalkan cara Gereja merampas kekuasaan dan harta. John Gaunt sering memakai ide-ide dan kesohoran Wycliffe dalam beragumentasi dengan Gereja. Sebagai imbalannya, ia memberi Wcyliffe semacam perlindungan dari hierarki.

Untuk sementara, Wycliffe merupakan pahlawan yang populer. Para pengikutnya, yakni Lollard, para imam yang menganut kemiskinan para rasul dan mengajarkan Kitab Suci kepada kalangan umum, mengembara di Inggris dengan Injil. Tetapi tatkala pengaruhnya menurun, Wycliffe menjadi kurang berguna bagi para sponsornya, termasuk Lancaster. Peristiwa tahun 1377 mengakibatkan tulisannya dilarang. Oposisi pun semakin intensif. Sementara ia sendiri diamankan dari kekerasan, tulisan-tulisannya dibakar dan ia dicopot dari kedudukannya di Oxford serta dilarang menyebarluaskan pandangannya.

Hal ini memberinya waktu untuk menerjemahkan Alkitab. Menurut Wycliffe, setiap orang harus diberi keleluasaan membaca Kitab Suci dalam bahasanya sendiri. “Oleh karena Alkitab berisikan Kristus, yang diperlukan untuk mendapatkan keselamatan, Alkitab sangat diperlukan bagi semua orang, bukan bagi para imam saja,” tulisnya. Maka meskipun Gereja tidak setuju, ia bekerja bersama sarjana lain untuk menerjemahkan Alkitab Inggris pertama yang lengkap. Menggunakan salinan tulisan tangan Vulgata (Alkitab terjemahan bahasa Latin), Wycliffe berusaha keras membuat Kitab Suci agar dapat dimengerti oleh orang-orang sebangsanya. Edisi pertama diterbitkan. Penerbitan kedua yang diselesaikan setelah Wycliffe meninggal, mengalami perbaikan. Namun edisi itu dikenal sebagai “Alkitab Wycliffe”, dan dibagikan secara ilegal oleh para Lollard.

Wycliffe terkena stroke di gereja dan meninggal pada tanggal 31 Desember 1384. Tiga puluh satu tahun kemudian, Konsili Konstaz mengucilkan dia, dan pada tahun 1428 kuburannya digali dan tulang-tulangnya dibakar, abunya disebarkan di sungai Swift.

Tidak ada yang tahu secepat apa idenya akan tersebar di seluruh Eropa. Dampak ajarannya pada para pemimpin di kemudian hari, seperti Yohanes Hus, memberikan Wycliffe julukan “Bintang Fajar Reformasi”. Ia sendiri berusaha tetap bertahan di Gereja Roma sepanjang hidupnya, tetapi dalam hati dan benak para pendengarnya, Reformasi sudah bergerak secara diam-diam.

sumber : http://www.sarapanpagi.org/100-peristiwa-penting-dalam-sejarah-kristen-vt1555.html

 

Posted in Tokoh Kristen
Tags: , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *

1,254 Spam Comments Blocked so far by Spam Free Wordpress

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Copy Protected by Chetans WP-Copyprotect.