Yohanes Hus Dibakar pada Tiang Pancang

Tahun 1415 Yohanes Hus Dibakar pada Tiang Pancang

By Sekolah Minggu

Yohanes Hus“Kita akan memberinya kesulitan.” “We’ll cook his goose.” Orang yang dimaksud kata-kata tersebut ialah Yohanes Hus, yang arti nama belakangnya adalah goose (angsa) dalam bahasanya Ceko. Orang yang mengucapkan kata-kata di atas mengacu pada fakta bahwa Hus dibakar di tiang pancang. Namun ketika para penguasa negara dan gereja menghukum Hus, mereka sesungguhnya menyulut api nasionalisme dan reformasi Gereja.

Pada tahun 1401, Yohanes ditahbiskan menjadi imam. Sebagian besar karirnya dihabiskan dengan mengajar di Univesitas Charles, di Praha dan berkhotbah di Kapel Betlehem yang berpengaruh, yang letaknya tidak jauh dari universitas itu.

Meskipun negara John Wycliffe letaknya jauh dari Bohemia, pengaruhnya telah tersebar di sana setelah Raja Richard II menikah dengan Anne, saudara perempuan raja Bohemia. Anne telah membuka jalan bagi orang Bohemia belajar di Inggris, dengan demikian tulisan-tulisan Wycliffe yang berbau reformasi telah menyusup ke Bohemia.

Pada dinding-dinding Kapel Betlehem terdapat lukisan-lukisan paus dan Kristus dengan perilaku yang berlawanan. Ketika paus berkuda, Kristus berjalan kaki tanpa alas, ketika Yesus membasuh kaki para murid-NYa, kaki paus diciumi. Hus tersinggung dengan keduniawian para agamawan seperti itu, dan ia pun berkhotbah dan mengajar melawan hal itu, sambil menekankan kesucian pribadi serta kemurnianĀ  hidup. Dengan menekankan peranan Alkitab dalam otoritas Gereja, ia mengangkat pengajaran yang bersifat alkitabiah ke kedudukan penting dalam pelayanan di gereja.

Ajaran Hus menjadi populer di kalangan umum dan beberapa dari kalangan aristokrat, termasuk sang ratu. Ketika pengaruhnya di universitas bertumbuh pada proporsi yang besar, popularitas tulisan Wycliffe pun bertambah.

Uskup Agung Praha menolak ajaran Hus. Ia memerintahkan Hus untuk berhenti berkhotbah dan meminta universitas membakar tulisan-tulisan Wycliffe. Ketika Hus menolak perintahnya, uskup agung tersebut menghukumnya. Paus YohanesXXIII (salah seorang dari tiga orang paus dalam Skisma Besar) menempatkan Praha di bawah interdict - suatu tindakan yang secara efektif mengucilkan seluruh kota itu, karenanya tidak seorang pun yang dapat menerima sakramen gereja. Hus setuju meninggalkan Praha, untuk membantu kota itu, tetapi ia senantiasa menarik massa, seperti ketika ia berkhotbah di gereja dan mengadakan persekutuan-persekutuan di alam terbuka.

Hus mengembangkan perlawanan terhadap kaum rohaniwan bukan saja dengan meninggalkan gaya hidup rohaniwan yang amoral dan mewah – termasuk paus – tetapi menegaskan bahwa hanya Kristus sajalah Kepala Gereja. Dalam bukunya On the Church (Tentang Gereja), ia membela otoritas kaum rohaniwan, namun menekankan bahwa hanya Allah yang dapat mengampuni dosa. PausĀ  ataupun uskup, tambahnya, tidak dapat menciptakan doktrin yang berlawanan dengan Alkitab, tidak juga seorang Kristen sejati yang dapat patuh pada perintah rohaniwan, jika ternyata hal itu jelas-jelas salah.

Pada tahun 1414, Hus dipanggil ke Konsili Konstanz untuk mempertanggungjawabkan ajarannya. Kaisar Romawi yang saleh, Sigismund, menjanjikan keamanannya.

Konsili telah mengambil sikap bagi Hus. Setibanya di sana, Hus langsung ditangkap. Konsili mengutuk baik ajaran Wycliffe maupun Hus.

Ketika ia diserang, ia menolak menyangkal pernah menyatakan bahwa apabila seorang paus atau uskup berada dalam dosa, maka ia bukan lagi paus atau uskup. Secara lisan Hus telah menyertakan juga sang raja dalam daftar tersebut.

Sigismund memanggil Konsili itu untuk memperbaiki Skisma Besar, dan mereka telah melakukannya. Tetapi tentunya tidak ada konsili yang memulihkan otoritas seorang paus akan membebaskan seorang pemberontak yang mempertanyakan hak tersebut.

Walau terkuras karena masa penjara yang panjang, penyakit dan kurang tidur, ia tetap menyatakan bahwa ia tidak bersalah dan menolak melepaskan “kesalahannya”. Pada Konsili ia berseru, “Meskipun ditawarkan sebuah kapel penuh dengan emas, saya tidak akan mundur dari kebenaran.”

Pada tanggal 6 Juli 1415, Gereja dengan resmi mengutuk Hus dan menyerahkannya kepada para otoritas sekuler untuk segera dihukum. Dalam perjalanan menuju tempat ia dieksekusi, Hus melewati halaman sebuah gereja. Di sana berkobar api unggun yang dibuat dari buku-bukunya. Sambil tertawa ia mengatakan kepada orang-orang di jalan agar tidak mempercayai kebohongan yang beredar tentang dia. Ketika ia tiba di tempat ia akan dibakar di atas tiang pancang, pejabat pemerintah yang bertugas menyarankan Hus menarik kembali pandangannya. “Allah adalah saksi saya,” jawab gerejawan tersebut, “bukti yang mereka kemukakan salah. Saya tidak pernah mengajar atau berkhotbah kecuali dengan maksud memenangkan manusia, jika mungkin, dari dosa mereka. Hari ini saya akan mati dengan gembira.”

Setelah ia meninggal, abu jasad Yohanes Hus ditaburkan di sebuah sungai. Kematiannya, yang dihadapinya dengan berani, meningkatkan martabatnya. Dipicu semangat kebangsaan keagamaan, para pengikutnya memberontak melawan Gereja Katolik dan kekaisaran yang didominasi oleh Jerman. Mereka menggulingkan keduanya secara efektif. Walaupun Paus mencoba segala upaya menindas gerakan ini, gerakan itu tetap bertahan sebagai gereja independen, yaitu Unitas Fratrum (“Persatuan Persaudaraan”).

sumber : http://www.sarapanpagi.org/100-peristiwa-penting-dalam-sejarah-kristen-vt1555.html

 

Posted in Tokoh Kristen
Tags: , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *

1,254 Spam Comments Blocked so far by Spam Free Wordpress

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Copy Protected by Chetans WP-Copyprotect.