KEMBALIKAN, ITU BUKAN MILIKMU

KEMBALIKAN, ITU BUKAN MILIKMU

by : Sekolah Minggu

Teng..teng..teng…lonceng masuk berbunyi.

Anak-anak yang masih berada di halaman berlarian menuju kelas masing-masing. Hari turun dari angkot, hendak ikut berlari, tetapi langkahnya terhenti, karena matanya melihat sesuatu di tanah. Cepat-cepat ia jongkok dan mengambilnya.

Wow, sebuah arloji yang dia impikan selama ini.

Hari segera memasukkan arloji itu ke saku celananya dan berlari menuju kelasnya. Anak-anak sudah berbaris di depan kelas, terengah-engah Hari mengambil tempat di barisan paling belakang.

Pikiran Hari terus melayang ke arloji yang sangat bagus itu, persis seperti yang dia inginkan, tetapi mama-papa tidak mau membelikan harganya sangat mahal. Setiap ada kesempatan Hari mengambil arloji itu dan mengamatinya.

“Akhirnya aku bisa punya arloji yang bagus, tapi ini milik siapa ya?” dalam hati Hari bertanya-tanya. Lalu terpikir olehnya, “Masa bodoh ah… Aku kan menemukannya. Aku bukan mencuri. LAgi pula aku tidak tahu siapa pemiliknya!” Hari tersenyum senang.

Teng..teng..teng… saat istirahat tiba. Anak-anak berhamburan keluar kelas, menuju kantin.

Hari ada di antara mereka, ketika sedang mengantri membeli roti, ia mendengar dua anak perempuan bercakap-cakap. Mereka anak kelas enam.

“Kasihan Stephen, ia kehilangan arloji. Padahal itu baru dibelikan ayahnya. Pasti ia akan dimarahi!”

“Mungkin ketinggalan di rumah!” kata anak yang lain.

Anak perempuan yang pertama menggeleng.

“Katanya, ia memakai roti ke sekolah. Rupanya talinya kurang kencang dan arloji itu jatuh. Semoga saja ada anak yang menemukannya dan mengembalikannya!”

“Kalaupun ditemukan, yang menemukan kan tidak tahu itu milik Stephen!” Kalau dia jujur, dia kan bisa mengantarkan ke kantor guru. Nanti sekolah yang mengurus. Stephen juga sudah lapor koq kepada Bu Evi, wali kelas kita!”

Hari cepat-cepat membeli roti dan bergegas meninggalkan kantin. Tiba-tiba saja perasannya menjadi tidak enak. Pikirannya tertuju pada arloji dan seorang anak kelas enam yang bernama Stephen. Jelas arloji itu milik Stephen. Namun, ia tidak kenal anak itu. Hari memakan rotinya sambil berdiam diri. Ia tidak berminat berbicara dengan teman. Ia sedang bergumul. Kembalikan? Tidak?Kembalikan? Tidak?

Teng..teng..teng…bel masuk berbunyi, dengan riuh rendah anak-anak masuk kembali ke kelas, melanjutkan pelajaran mereka. Tapi Hari tidak bisa konsentrasi. Masalah arloji itu sungguh mengganggunya. Ia ingin memilikinya, tetapi hati nuraninya mengatakan bahwa ia harus mengembalikan. Dan yang paling mengganggu, tanpa diinginkannya, tiba-tiba saja ia teringat pelajaran sekolah minggu yang lalu, mengenai sepuluh perintah Allah, jangan mengingini barang milik orang lain. Hari semakin bergumul, apabila tidak dikembalikan, sudah pasti dia tidak menaati Firman Tuhan. Kalau dikembalikan, impiannya untuk mendapatkan jam tangan tidak terkabul.

Suara Pak Guru yang mengajar matematika hanya terdengar sayup-sayup. Hari sedang berpikir dan berusaha membenarkan dirinya untuk mengambil arloji itu. Stephen yang salah, kenapa dia tidak hati-hati, bukan aku yang salah. Kalau aku ambil arloji ini tidak ada yang tau kok, lagipula orang tua Stephen kan kaya, tidak susah untuk membeli jam baru, sedangkan aku? Membeli satu saja sulit sekali.

Tetapi pada saat yang bersamaan di dalam pikiran Hari juga muncul ayat Firman Tuhan yang menjadi ayat hafalan minggu lalu, “jangan mengingini barang milik orang lain”. Kata-kata itu melayang-layang di dalam pikirannya. Hari sungguh-sungguh sedih, karena dia sangat ingin arloji tersebut, tetapi itu berarti dia akan melanggar perintah Allah.

Teng..teng..teng…bel istirahat kedua, Hari enggan sekali keluar kelas. Dia hampir menangis, karena merasa gagal mendapatkan arloji, dia sudah mengambil keputusan untuk mengembalikan arloji tersebut. Ia pergi ke kantor guru dan mengembalikan arloji itu. Bu Titi, pegawai Tata Usaha menanyakan nama dan kelasnya. Bu Titi menepuk bahu Hari dan berkata, “Bagus, Hari, kamu anak yang jujur. Semoga semua anak juga jujur seperti kamu.”

Ketika arloji itu berpindah tangan dari tangannya ke tangan Ibu Titi, aneh sekali, hatinya tidak berat lagi tetapi justru plong…lega sekali, seperti yang dirasakannya setiap kali dia berbuat hal yang benar. Hari tau, dia sudah melakukan hal yang benar dan dia bersyukur karena dia sudah memilih untuk taat kepada perintah Tuhan.

Esok paginya, Hari sedang duduk di bangku panjang di depan kelasnya ketika seorahal yang benarng anak laki-laki mendekatinya. “Kamu Hari yang mengembalikan arloji saya kan? Saya Stephen, anak kelas 6 B. Terima kasih karena kamu telah menemukan arloji saya dan mengembalikannya. Kalau tidak ketemu, saya pasti dimarahi Papa dan Mama saya!” kata Stephen.

Hari tersenyum. Dia senang, karena tau dia sudah melakukan hal yang benar.

 

Artikel bersumber dari : Majalah Anak

Posted in Cerita Alkitab, Cerita Sekolah Minggu
Tags: , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *

1,254 Spam Comments Blocked so far by Spam Free Wordpress

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Copy Protected by Chetans WP-Copyprotect.