Mamaku Memang Istimewa

Mamaku Memang Istimewa

by : Sekolah Minggu

 

img183Aling melihat Mama sudah bersiap-siap. Ia mau ke pasar untuk membuka kios buahnya pagi itu. Motor bebeknya sudah siap di halaman.

“Aling, sebelum ke sekolah mampir ke kios Mama, ya. Mama mau titip buah untuk Bu Min,” pesan Mama.

Bu Min adalah istri tukang kebun sekolah Aling yang tinggal di sudut halaman sekolah dekat kelas Taman Kanak-kanak.

“Besok saja, Ma. Hari ini aku kantidak naik mobil. Papa mau rapat, tidak bisa mengantarku ke sekolah,” tawar Aling.

“Tidak, Bu Min ulang tahunnya hari ini. Kamu naik ojek saja sampai pasar. Dari pasar ke sekolah terserah kamu mau jalan atau naik ojek lagi,” jawab Mama tegas.

“Barangkali Bu Min juga sudah lupa sama Mama,” Aling masih mencoba menolak. Dia merasa Mama selalu memaksakan keinginannya.

“Pasti dia ingat. Mama satu-satunya orang yang menumpang duduk di teras rumahnya waktu kamu TK, supaya kamu bisa melihat Mama dari kelasmu,” kata Mama tidak sabar. “Sudah, ya, Mama mau berangkat!”

“Mestinya Mama sendiri yang antar,” Aling masih berusaha menyahut. Tetapi Mama sudah menuju ke motor bebeknya dan ia tidak menjawab kata-kata Aling.

Dengan sedikit kesal Aling duduk di meja makan dan memakan nasi gorengnya. Papa keluar dari kamar, berkemeja tangan panjang dan berdasi. Ia membawa tas kantornya. Harum parfumnya membuat perasaan kesal Aling memudar.

“Sayang, sori, ya. Papa tidak bisa mengantarmu hari ini,” kata Papa dengan manis. “Papa jalan duluan, ya.”

“Tak apa, Pa. Hati-hati, ya,” jawab Aling dan ia melambaikan tangan.

Rasa kesalnya sama sekali sudah hilang. Papa selalu menyenangkan, tidak seperti Mama, pikir Aling.

Dengan menumpang ojek Aling menuju pasar. Mama sudah menyiapkan jeruk dan anggur dalam kantong plastik keresek putih. Dari luar isi kantongnya kelihatan. Seorang anak laki-laki yang menyandang kotak semir berdiri di dekat kios Mama.

“Ma, boleh minta apelnya satu?” pinta anak itu.

“Ambil saja, Jang,” jawab Mama.

Ujang mengambil sebuah apel merah dan menggigitnya.

“Terima kasih, Ma. Itu anak Mama, ya? Siapa namanya? Cantik, ya, seperti pemain sinetron Korea,” celoteh Ujang.

Mama tersenyum dan Aling mendelik.

“Terima kasih,Jang. Ini Aling, anak Mama. Dia jarang ke pasar, jadi kamu tidak kenal,” jawab Mama.

Lalu Ujang pamitan, katanya mau menyemir sepatu di stasiun kereta api.

“Enak saja panggil Mama, memangnya mamanya dia!” omel Aling. “Enak saja minta-minta apel!”

“Sudahlah, Ling,” kata Mama. “Lekas ke sekolah, supaya kamu tidak terlambat!”

Aling berangkat. Dia mau jalan kaki saja karena jarak ke sekolahnya sudah dekat. Sempat dia berpikir bahwa Mama itu aneh, mau berdagang di pasar yang kotor, becek, bau, dan bergaul akrab dengan anak singkong macam Ujang.

Keluar dari pasar Aling melewati daerah rumah-rumah kumuh. Dengan melalui jalan itu ia akan lebih cepat sampai ke sekolah daripada melalui jalan raya. Tiba-tiba dua anak sebaya Ujang mendekatinya.

“Rejeki, Coy! Ada jeruk dan anggur!” kata salah seorang di antara mereka.

Temannya langsung menarik kantong buah itu dari tangan Aling. Aling berusaha mempertahankannya. Wajahnya pucat karena takut. Tetapi anak yang pertama berusaha menarik tas sekolah Aling. Terpaksa Aling mempertahankan tas sekolahnya dan merelakan kantong plastiknya diambil.

“Stop, stop!” Tiba-tiba saja Ujang sudah berada di dekatnya.

“Kembalikan jeruk dan anggur itu! Ini anaknya Mama Buah, tahu?” kata Ujang dengan lantang.

Kedua anak laki-laki itu melongo. Yang satu mengembalikan kantong buah itu dan yang satu lagi berkata dengan bingung pada Ujang.

“Aduuuh, bagaimana kalau Mama Buah tahu? Aku malu sekali!”

“Ayo, minta maaf pada Aling!” kata Ujang lagi.

Dengan tersipu-sipu kedua anak itu minta maaf, lalu pergi.

Aling memandang Ujang. Kulitnya hitam, bajunya kumal. Tetapi kalau tidak Ujang, mungkin Aling tidak hanya kehilangan buah, tetapi dompet dan hp-nya juga.

“Terima kasih, ya,” kata Aling.

“Tidak apa, itu tadi teman-temanku. Pasti mereka ke kios mamamu dan minta maaf. Mamamu sangat baik. Kami boleh minta buah, suka ditraktir makan soto ayam. Kalau naik kelas kami pasti dibelikan buku tulis dan bolpoin,” cerita Ujang.

“Mari kuantar kamu sampai ke dekat sekolah. Aku jalan di belakangmu,” kata Ujang. “Daerah ini memang berbahaya.” Aling berjalan menuju sekolah dengan perasaan campur aduk. Ah, ternyata selama ini dia hanya kenal Mama sebagian saja. Ternyata Mama sangat istimewa. Mama mengasihi sesama seperti yang diperintahkan Tuhan Yesus. Dalam hati Aling berjanji untuk bersikap lebih manis sama Mama dan juga mengasihi orang-orang yang kurang beruntung.

Artikel bersumber dari : Majalah Anak

Posted in Cerita Alkitab, Cerita Sekolah Minggu
Tags: , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *

1,254 Spam Comments Blocked so far by Spam Free Wordpress

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Copy Protected by Chetans WP-Copyprotect.