Peter Waldo Memulai Gerakan Kaum Waldens

Tahun 1173 Peter Waldo Memulai Gerakan Kaum Waldens

By Sekolah Minggu

Peter WaldoSebelum Reformasi, beberapa kelompok orang Kristen merasa keberatan atas jalan yang ditempuh Gereja Katolik. Salah satunya ialah kaum Waldens, yang dimulai seorang saudagar Perancis, yang merasa kecewa terhadap gereja Abad Pertengahan.

Pada suatu hari, Peter Waldo mendengar seorang penyanyi keliling bernyanyi tentang seorang muda yang kaya, yang meninggalkan keluarganya dan kembali setelah bertahun-tahun lamanya. Orang muda itu kembali dengan berpakaian seperti seorang pengemis dan menjadi begitu kurus sehingga sanak keluarganya sendiri tidak mengenalinya. Hanya saat ia menemui ajalnya ia menampakkan identitas sesungguhnya. Ia telah hidup di antara orang-orang miskin dan mati dengan gembira, gembira akan menemui Allah yang selalu tersenyum kepada orang miskin.

Tergerak oleh cerita itu, Waldo segera bertindak, menyisihkan dana secukupnya untuk istrinya, dan menempatkan kedua putrinya di asrama. Sisa kekayaannya ia bagikan kepada orang miskin. Ia mempekerjakan dua orang imam untuk menerjemahkan Alkitab dalam bahasa Perancis dan mulai menghafal tulisan-tulisan panjang. Kemudian ia mulai mengajar orang-orang biasa tentang Kristus.

Meskipun para biarawan dan biarawati telah mengajar tentang kemiskinan dan penyangkalan diri – walaupun mereka sendiri sering gagal berpegang pada sumpah mereka – gereja melihat hal ini sebagai sesuatu yang perlu mereka praktikkan. Tidak banyak orang berharap bahwa orang-orang biasa dapat hidup suci.

Waldo dan para pengikutnya – yang menamakan dirinya sebagai Orang-orang Miskin dari Lyons – yakin bahwa Yesus menginginkan ajaran-Nya dijalankan semua orang. Dengan berpasangan para Waldens mengunjungi tempat-tempat umum, mengajarkan Perjanjian Baru kepada orang-orang awam.

Perbedaan antara Gereja dan para pengajar ini tampak jelas bagi uskup agung Lyons. Ia memerintahkan mereka menghentikannya. Waldo menyitir Rasul Petrus: “Kita harus lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia” (Kis. 5:29). Meskipun uskup agung mengucilkan Waldo, hal itu tidak menghentikan dia ataupun gerakan yang menyandang namanya. Para Waldens mengajukan banding kepada Paus Alexander II. Meskipun ia dapat dikejar sampai pada Persidangan Lateran Ketiga (1179), orang-orang Waldens yang sibuk “berpasangan, berjalan tanpa alas kaki, berpakaian wol, tanpa memiliki apa pun, dengan anggapan semua benda milik bersama seperti para rasul”, mengesankan Paus. Karena mereka hanyalah orang-orang awam belaka, walau bagaimanapun, ia tidak dapat mengizinkan mereka mengajar tanpa persetujuan seorang uskup – suatu hal yang tidak mungkin mereka capai.

Mengingat perkataan dalam Kisah Para Rasul, Waldo dan pengikutnya melanjutkan pengajarannya. Ini mengakibatkan pengucilan mereka oleh Paus Lucius III pada tahun 1184.

Kaum Waldens tidak mengajarkan ajaran sesat, walaupun Gereja menuduh mereka demikian. Mereka bersifat ortodoks. Namun, karena mereka berada di luar struktur gereja, para pengikut Waldo ini tidak mendapat pengakuan hierarki Gereja. Bagi orang-orang gerejawi Abad Pertengahan, apa pun yang ada di luar Gereja adalah ajaran sesat.

Banyak orang Kristen Perancis dan Italia, yang telah kecewa dengan Gereja yang bersifat duniawi, berpaling ke Waldensian, yang mengajarkan imamat bagi setiap orang percaya. Mereka menolak relikwi, ziarah dan paraphernalia seperti air suci dan pakaian-pakaian rohaniwan, hari-hari para santo dan perayaan lainnya, serta purgatory. Komuni bukanlah sesuatu untuk dilaksanakan setiap hari Minggu, dan para pengkhotbah Waldens berbicara serta membacakan Injil kepada orang-orang dalam bahasa mereka sendiri.

Pada tahun 1207, Paus Innocentius III menawarkan bahwa para Waldens akan diterima jika mereka mau tunduk pada para pejabat Gereja Katolik. Banyak yang kembali – tetapi yang lain tidak. Pada tahun 1214 Paus mengutuk mereka sebagai orang-orang berhaluan ajaran sesat dan menyerukan agar mereka ditindas. Inkuisisi (penyelidikan dan pengadilan Gereja Katolik) melaksanakan tugasnya dengan melenyapkan mereka.

Kendati mengalami semua penindasan ini, namun kaum Waldens tidak jera, dan tetap meneruskannya. Mereka menyebar di seluruh Eropa, dan ketika Reformasi muncul, mereka disambut hangat oleh sebagian kaum Protestan. Sekarang mereka menganggap dirinya sebagai orang-orang Protestan. Kaum Waldens adalah saksi hidup bahwa pada masa-masa suram sejarah Gereja, gerakan perbaikan baru selalu akan muncul dari dalam Gereja.

sumber : http://www.sarapanpagi.org/100-peristiwa-penting-dalam-sejarah-kristen-vt1555.html

 

Posted in Tokoh Kristen
Tags: , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *

1,254 Spam Comments Blocked so far by Spam Free Wordpress

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Copy Protected by Chetans WP-Copyprotect.