SERAKAH SIH!

SERAKAH SIH!

“Buanglah dari hatimu segala keserakahan!” (Kolose 3:5)

Serakah artinya ingin mendapat lebih banyak dari apa yang sudah dimiliki. Kalau serakah, kita bukan cuma tidak mendapat lebih banyak, tapi bisa jadi yang sudah dimiliki hilang.

Alkisah, ada seekor anjing sedang berjalan keluyuran ke sana-kemari tidak ada tujuan. Dia masuk ke dalam pasar sambil melihat-lihat kesibukan orang berbelanja. Kemudian sang anjing melintas melewati toko daging. Sebenarnya dia tidak mempunyai rencana untuk mencuri daging. Tapi ketika ia melihat betapa sibuknya pemilik toko melayani pembeli, hatinya tergoda. “Ah, kesempatan besar nih. Si tukang daging yang galak dan pelit itu sedang repot dengan ibu-ibu yang rewel dan cerewet. Hmmm…hm… lihat saja, topinya sampai kocar-kacir, rambutnya awut-awutan; celemeknya sudah kotor dan basah oleh keringat. Ho..ho..ho.. kalau aku tidak segera mengambil kesempatan ini… wuih, tidak tentu sepotong tulangpun kuperoleh.”

Maka mulailah sang anjing mengendap-endap menunggu kesempatan. Begitu tukang daging lengah, segera disambarnya sepotong tulang yang amat besar dari atas meja. Wah, semua orang yang ada di toko itu terkejut. Tukang daging pun marah sekali. Hiii… pisau jagalnya yang besar diacung-acungkan sambil mengomel, “Hei pencuri kau! Anjing nakal, anjing jahat, anjing sontoloyo! Lain kali kupotong moncongmu biar tidak bisa menggondol tulang lagi!!!”

Anjing nakal itu lari tunggang langgang sambil menggondol tulang curiannya. Uh, nafasnya terengah-engah. Tapi dia tidak peduli. Pikirnya, “Yang penting tulang sudah di tangan, eh… sudah di moncong. Perkara pisau jagal, dipikirkan nanti saja.” Dasar nakal ya.

Setelah berada cukup jauh, sang anjing mulai memperlambat larinya. Tulang besar yang dia curi masih digigitnya erat-erat. Tidak sekejap pun akan dilepaskannya tulang yang amat berharga itu. ‘Bayangkan, uahh… sedapnya makan tulang curian. Tulang sebesar ini pasti tidak habis sampai seminggu. Sedikit demi sedikit akan dikunyahnya sampai habis. Pertama-tama tentu daging yang masih menempel sedikit itu dulu yang dihabiskan, nyam…nyam… Setelah itu lemak-lemaknya yang berkilat dan harum itu giliran kedua.’ Sambil membayangkan nikmatnya tulang yang sedang ada di moncongnya, tak terasa air liur sang anjing bertetesan.

Anjing ini berjalan membawa tulangnya sampai ke sebuah jembatan. Jembatan ini adalah jembatan penyebrangan di atas air sungai yang tenang. Sang anjing berhenti di tengah jembatan itu dan memandang ke sungai di bawah jembatan. Di situ ia memandang bayangannya sendiri yang terpantul di permukaan air. Bodohnya, ia tidak tahu kalau itu adalah bayangannya sendiri. Dikiranya itu adalah anjing lain yang sedang menggondol sepotong tulang. Semakin dipandang, dilihatnya tulang yang digondol anjing di bawah jembatan itu lebih besar dibanding tulang yang sedang digondol di moncongnya.

Dasar anjing serakah, dia tergoda untuk mengambil tulang lebih besar itu. “Ah, kapan lagi aku bisa mendapatkan tulang yang lebih besar. Tulang yang ada di moncong anjing itu benar-benar hebat. Aku harus segera mendapatkannya. Aku harus merebut tulang itu dari dia!” Segera dilepaskannya tulang yang ada di moncongnya dan ia melompat ke sungai untuk menyerang anjing di air dan merebut tulangnya. Tetapi betapa kecewanya dia. Ternyata anjing yang dia sangka mempunyai tulang yang lebih besar itu adalah bayangannya dirinya sendiri!

Wah, sekarang sudah terlambat. Segera dia mencari tulang yang tadi telah dilepaskan dari moncongnya. Tulang itu tidak dapat dia temukan. Tulang itu sudah tenggelam di dasar sungai yang amat dalam. Tak ada lagi tulang sedap yang bisa dinikmati, tinggal badan yang basah menggigil karena air sungai yang dingin. Sang anjing berjalan dengan lesu. Tulang bayangan tidak didapat, tulang di moncong malahan hilang.

Sebab itu jangaa…..annn: serakah, deh! Hati yang serakah artinya ingin mendapat lebih banyak dari apa yang sudah dimiliki. Kalau serakah, kita bukan cuma tidak mendapat lebih banyak, tapi bisa jadi yang sudah dimiliki akan hilang.

Aesop’s Fabel: The Dog and His Shadow,

Diceritakan kembali oleh : Kezia Jonathan

Sumber dari majalah kita

Posted in Cerita Sekolah Minggu
Tags: , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *

1,254 Spam Comments Blocked so far by Spam Free Wordpress

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Copy Protected by Chetans WP-Copyprotect.