Tertolong

Tertolong

By : Sekolah Minggu

Suatu malam Belang masuk ke dalam sebuah rumah. Dia mau mencuri makanan di dapur, akan tetapi saat itu dilihatnya sebuah botol berisi serbuk putih. Belang segera mengambil botol itu dan berlari ke Taman Idaman.Dia menunggu sampai semua penghuni Taman Idaman tertidur. Menjelang pagi ia menaburkan serbuk putih itu di taman itu dan segera pergi.

anjing

Broni mencium bau si Belang dan suatu bau yang lain. Dia membuka matanya sedikit, tetapi tak melihat Belang. Baru saja Broni memejamkan matanya lagi Semut Hitam berbisik padanya.

“Broni, tadi si Belang menaburkan serbuk putih. Aku melihatnya.”

“Waff…, serbuk putih? Ya, aku mencium suatu bau aneh.” Broni segera bangkit dan mengendus-endus rumput.

“Haaatchiii!” Broni bersin. Teman-temannya terbangun.

“Ada apa, Broni? Kamu sakit?” tanya Kuring.

“Tidak. Belang menaburkan serbuk putih. Aku mencoba mencium baunya,” kata Broni. “Waff, waff…bau seperti ini seingatku ada di dapurku waktu orang masak.”

“Rasanya pedas,” kata Senili setelah menjilat serbuk yang ada di rumput itu.

“Kalau tidak salah namanya lada,” kata Semut Hitam.

“Oooh…begitu,” kata Broni. “Kita bersihkan saja taman ini. Ayo, semua ikut bekerja! Waff!”

Ketika matahari sudah bersinar terang. Belang masuk ke sebuah rumah lain dan langsung ke dapur.

“Hmmm, sedapnya,” Belang menghirup bau daging goreng. Tanpa berpikir lagi dia segera mengambil sepotong dan lari keluar.

“Hukhuk..huk.huk…”

“Grrr….”

“Gukguk…guk…grrr….” Tiga ekor anjing mengejarnya.

Belang melompat ke pagar dan melompat lagi keluar. Ia berjalan tenang. Tetapi tiba-tiba seekor anjing hitam dan besar telah berada di samping kirinya.

“Hukhuk…!”

“Grrr…,” seekor lagi di sebelah kanannya. Ketika dia menengok ke belakang dilihatnya anjing yang terbesar menyeringai.

Belang bergerak ingin lari. Tetapi kedua anjing di kiri dan kanannya mencegatnya. Ketiganya mendekat dan menyerbu Belang. Belang berusaha menghindar. Dia melemparkan daging goreng itu. Tetapi ketiga anjing itu tidak berhenti menyerangnya.

“Ngeooong!” satu kaki Belang kena gigitan anjing.

Pada saat itu Pipit sedang terbang ke Taman Idaman. Dia melihat Belang sedang diserbu anjing-anjing itu.

“Kasihan sekali si Belang. Aku harus memberitahu si Broni. Pasti dia mau menolong Belang,” Pipit iba hatinya.

Tetapi tidak semua penghuni taman setuju untuk menolong Belang.

“Dia jahat, dia berusaha meracuni kita,” kata Tuna.

“Belang berbuat jahat kan sudah biasa,” kata Kuring. “Lagi pula yang dia tabur bukan racun. Apa salahnya kita menolong dia?”

“Benar, siapa tau dengan begitu dia tidak berbuat jahat lagi pada kita,” sambung Senili.

Broni diam mendengarkan pendapat teman-temannya.

Sementara itu Bee melihat juga Belang dan anjing-anjing yang menyerangnya itu dalam perjalanannya ke taman. Bee berusaha menghambat anjing-anjing itu dengan berputar-putar di atas kepala mereka. Bee berhasil. Anjing-anjing itu terganggu dan Belang pun lari menuju Taman Idaman. Tetapi karena kakinya sakit dia tidak bisa berlari terlalu cepat. Ketiga anjing itu mengejar Belang.

“Heh…heh…,” Broni, izinkan aku masuk sebentar saja…heh…,” Belang tersengal-sengal kehabisan napas.

“Masuklah!” seru Broni sambil berjalan ke pagar.

“Hukhuk…grrr…guk…guk!” ketiga anjing itu sampai di depan pagar. Seekor di antara mereka melompat ke dalam.

“Waff, sebaiknya kamu keluar!” Kata Broni pada anjing itu. “Jangan ganggu taman ini!”

“Tidak bisa! Kecuali kamu juga keluar!” kata anjing itu. “Kalau tidak, taman ini akan kami hancurkan!”

Tanpa bicara satu kata pun lagi, Broni melompat keluar pagar menghadapi ketiga ekor anjing hitam dan besar-besar itu. Broni bertarung dengan segenap tenaga.

Teman-temannya tetap diam. Tetap ada yang mulai gemetar, ada yang memalingkan mukanya, ada pula yang memejamkan matanya tidak tahan melihat pertempuran tiga lawan satu itu. Semuanya sangat cemas mengkhawatirkan Broni.

Akhirnya Broni berhasil mengalahkan ketiga ekor anjing itu. Mereka kehabisan napasĀ  dan berlari pulang. Broni melompat masuk ke dalam taman.

“Broni berhasil!” seru Bee

“Kupingnya luka,” bisik Senili.

“Dahinya juga berdarah….,” bisik Kuring.

Belang berjalan terpincang-pincang menghampiri Broni dan tertunduk di hadapannya.

“Terima kasih, Broni. Terima kasih, teman-teman semua. Aku janji tidak akan berbuat jahat lagi,” Belang berjanji.

Kemudian Belang membantu para penghuni Taman Idaman membersihkan taman itu dari serbuk lada yang telah disebarkannya.

Artikel bersumber dari : Majalah Anak

Posted in Cerita Sekolah Minggu, Sekolah Minggu
Tags: , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *

1,254 Spam Comments Blocked so far by Spam Free Wordpress

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Copy Protected by Chetans WP-Copyprotect.