Masing-masing orang unik

Jangan Mengingini:                                                                          

Masing-masing orang unik

by : Sekolah Minggu

Beberapa hari ini Sarah sakit batuk. Ia tetap mask sekolah, hanya di rumah ia dibebaskan dari tugas mencuci piring, menyapu dan mengepel. Mama sudah memberikan Sarah obat, buah-buahan, makanan yang baik, dan yang paling penting, mereka sudah bersama-sama berdoa meminta kesembuhan Sarah. Mama berdoa supaya Sarah kembali sehat, agar dapat belajar dengan baik, supaya waktu besar nanti dipakai Tuhan.

Sebetulnya sekarang Sarah sudah lebih baik. Demamnya sudah turun, dan batuknya tidak sesering sebelumnya. Ia sudah bisa bermain dengan Rachel, juga sudah sempat mengganggu Jona, serta kena marah Papa. Tetapi ia masih ingin bermalas-malasan. Sewaktu mama mengingatkannya untuk membuat PR, Sarah cemberut dan masuk ke tempat tidur.

“Sarah kan masih sakit, Ma,” alasannya.

“Tidak, kamu sudah lebih sehat,” kata Mama. “Ayo, kerjakan dulu PR-nya. Nanti kalau perlu istirahat, boleh istirahat.”

“Ah, Mama jahat,” katanya sambil mulai menangis.

Ia lupa selama ini Mamalah yang merawatnya dengan penuh kasih, terutama waktu ia sakit. Ia juga lupa kalau kesehatan diberikan Tuhan bukan untuk bermalas-malasan.

Dengan mulut monyong seperti paruh bebek, Sarah mulai mengerjakan PR matematikanya. Pada saat yang sama, Jona juga mengerjakannya dengan asyik. Jona memang suka sekali matematika. Ia tekun dan hati-hati dalam memecahkan soal hitungan.

Sarah melihat dengan iri kepada adiknya. Ia sendiri tidak suka matematika. Ia merasa  ia tidak bisa matematika. Bukan karena Sarah bodoh, tetapi karena ia selalu ingin cepat selesai. Ia tidak mau berpikir dengan teliti. Akibatnya ia sering membuat kesalahan-kesalahan konyol dan harus mengulang pekerjaannya.

Sarah kesal sekali sewaktu Mama memeriksa hasil pekerjaan mereka. Jona hampir betul semua, sementara sarah banyak salahnya. Sarah harus mengulang pekerjaannya, tapi Jona sudah boleh bermain bersama Rachel. Buku matematika Sarah sampai basah dengan tetesan air mata.

Dalam hati Sarah berpikir, Mama lebih sayang Jona karena Jona lebih pintar.

Pada saat itu ada orang datang ke rumah. Sarah tidak melihat siapa yang datang. Tetapi waktu Mama kembali ke kamar, ia membawa sebungkus permen coklat kacang. Enak sekali!

“Apa itu, Ma? Apa itu, Ma?” ketiga anak itu bertanya dengan semangat.

“Ini permen dari Tante Wati.”

“Ma, mau, Ma,” kata mereka.

“Tidak usah diberitahu pun Mama tahu kalian mau,” kata Mama sambil tertawa. Mereka juga tertawa. “Nanti ya, setelah makan malam.”

“Horeee!”

Jona bertanya, “Mama, Kak Sarah kan batuk. Boleh makan permen?”

Sarah langsung memeloti adiknya dengan kesal.

“Benar saja. Mama menjawab, “Tidak boleh. Mungkin besok boleh. Mama simpan bagian Sarah dulu, ya.”

Sarah kecewa sekali. “Kok Jona boleh, Sarah tidak boleh?”

“Kak Sarah kan batuk,” kata Jona dengan bijaksana. “Nanti sakit lagi.”

“Mama jahat! Mama lebih sayang Jona!” Sarah menghentakkan kakinya ke lantai dan menangis lagi. Kali ini tangisnya tidak terlalu keras, tetapi benar-benar sedih.

“Sarah, yang Jona bilang memang betul. Mama tidak mau Sarah sakit, makanya Sarah belum boleh makan permen,” kata Mama.

“Mama lebih sayang Jona karena Jona pintar matematika!” kata Sarah lagi.

“Mama sayang semua anak Mama: Sarah, Jona, Rachel. Kamu tidak perlu iri pada Jona atau Rachel. Kenapa? Karena Mama sayang semua anak Mama. Pada orang lain juga kamu tidak boleh iri, karena Tuhan sayang semua anak Tuhan. Ada yang Tuhan ciptakan tinggi, pendek, perempuan, laki-laki, lahir duluan, lahir belakangan, ada yang suka matematika, ada yang suka menggambar, ada yang suka olah raga, ada yang suka membaca, rambutnya lurus, keriting, hitam, pirang, bermacam-macam. Tuhan sayang semuanya. Terus kenapa orang berbeda-beda? Kenapa tidak semuanya sama-sama cantik, sama-sama pintar, sama-sama sehat? Karena Tuhan menciptakan  setiap orang itu unik! Spesial! Istimewa! Hanya satu-satunya. Di dunia, di sepanjang sejarah dari dulu, dari Adam, sampai sekarang, sampai nanti waktu Tuhan Yesus datang lagi, hanya ada satu Sarah,” Mama melihat kepada Sarah yang memperhatikan dengan serius.

Mama melihat kepada Jona, “Hanya ada satu Jona.”

Mama melihat kepada si kecil Rachel yang belum mengerti kata-kata Mama dan tersenyum , “Hanya ada satu Rachel.”

Mama melanjutkan, “Tuhan tidak mau Sarah jadi Jona, atau Jona jadi Rachel, atau Rachel jadi Sarah. Tapi Tuhan itu mau semua anak Tuhan rajin dan bertanggung jawab dengan bakat yang Tuhan berikan pada si anak itu. Bukan dengan bakat orang lain. Sarah tidak perlu iri.

“Jadi,yang Sarah perlu kerjakan apa?”

“Rajin, Ma,” jawab Sarah.

“Betul sekali,” Mama memeluk Sarah.

Kamu juga tidak perlu iri pada orang lain. Tuhan menciptakan kamu sebagai kamu. Dan Tuhan sayang padamu!

Artikel bersumber dari : Majalah Anak

Posted in Cerita Alkitab, Cerita Sekolah Minggu
Tags: , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *

1,254 Spam Comments Blocked so far by Spam Free Wordpress

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Copy Protected by Chetans WP-Copyprotect.